- Dompet (checked)
- Payung (checked)
- Bekel (checked)
- Ipod (checked)
07:47 pagi, Bandung ketika itu dingin dan segar. Memulai kegiatan di pagi hari, memang merupakan suatu hal yang menyenangkan sekali. Polusi belum terlalu mengkontaminasi udara pada saat itu, sehingga pagi pun dimulai dengan semangat yang menyegarkan jiwa.
Cicalengka, sebuah kota kecil yang juga merupakan bagian dari kecamatan di kabupaten Bandung, dapat dijangkau dengan menggunakan kereta patas yang ngetem di stasiun Bandung. Perjalanan dimulai dari buahbatu, untuk dapat mencapai stasiun kereta api Bandung, angkot St.Hall-Gedebage, yang berwarna hijau kekuning-kuningan lah yang bisa kita pilih untuk dapat sampai langsung di stasiun. Dari daerah buahbatu sampai dengan stasiun, supir angkot men-tarifkan perjalanan itu sebesar 4000 rupiah (lebih baik bayar pakai uang pas, sehingga ongkos pun bisa dikurangi menjadi 3500).
Setelah itu perjalanan ke Cicalengka dapat dilakukan dengan memilih kereta patas baraya geulis, dengan tarif sebesar 5000 rupiah. Perjalanan dari Bandung sampai Cicalengka akan menghabiskan sekitar 38 - 40 menit, dalam karcis tertuliskan, jika berangkat pukul 08:35 pagi, kereta akan tiba pukul 09.13.
Ada baiknya sebelum memulai perjalanan yang cukup jauh kelengkapan alat atau hal-hal lainnya benar-benar di cek terlebih dahulu. Jangan sampai ketika baru menjalani seperempat perjalanan, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat anda harus berhenti dan mengakhiri perjalanan itu. Itulah yang terjadi pada penulis, karena satu dan lain hal yang sangat mendesak sekali, ia harus menerima bahwa perjalanannya menuju Cicalengka harus diakhiri di stasiun Kiara Condong (Kircon), Bandung.
Impulsif. Dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai "bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati."
Gagal dalam mencapai satu hal berarti mendapatkan kesempatan untuk mencapai hal yang lain. Perjalanan ke Cicalengka memang berakhir di stasiun Kircon, namun tidak dengan petualangannya. Petualangan tetap akan dilanjutkan meski tidak sesuai dengan rencana awal.
Cirebon. Mendadak saja kota itu yang dijadikan tujuan petualangan empat orang pemuda/i petualang asal Bandung. Dengan menggunakan mobil mini keluaran Toyota tersebut, empat pemuda tadi mengeluarkan ongkos sebesar 20.000 rupiah perorang untuk bensin. Salah satu pemuda memberitahu yang lainnya bahwa ramalan dalam Tarot hari ini adalah impulsif, sangat cocok dengan apa yang sedang mereka lakukan, sebuah perjalanan tiba-tiba yang tidak direncanakan sebelumnya (karena pada awalnya rencana petualangan ini hanya direncanakan oleh dua pemuda, sedangkan dua lainnya diajak secara tiba-tiba dan keputusan untuk melakukan perjalanan berempat pun terjadi dengan sangat cepat). Terkadang memang begitulah hidup, apa yang kita rencanakan tidak selamanya akan berjalan sesuai yang diharapkan, apabila itu terjadi, sebuah perubahan secara tiba-tiba, jangan khawatir karena ada hal lain yang lebih menarik yang bisa didapatkan dari sebuah kegagalan.

Untuk mencapai Cirebon dengan menggunakan mobil, rute yang harus dilewati dari Ciumbuleuit adalah Cihampelas - Suci - Cicaheum - Ujung Berung - Jatinangor - Cadas Pangeran - Sumedang - Majalengka - Cirebon. Lama perjalanan yang ditempuh dari Cadas Pangeran sampai Cirebon adalah 2 jam 35 menit. Cirebon merupakan kota dengan udara yang cukup lembap. Kelembapan itu ternyata karena Cirebon adalah kota yang cukup dekat dengan laut. Cirebon memang merupakan sebuah kota yang cukup menarik untuk dijadikan sebagai tempat untuk berpetualang, selain makanannya yang enak-enak, ternyata banyak tempat-tempat yang tidak kalah asik dengan makanannya. Mulai dari seafood, empal gentong, sampai sate, mulai dari kolam berendam sampai "pasar senggol".

Ada begitu banyak hal menarik yang dapat ditemukan di kota yang juga disebut sebagai kota udang atau kota wali ini. Salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi adalah pasar yang katanya hanya ada untuk menyambut perayaan mauludan (salah satu hari besar umat Islam, Maulud Nabi). Kita dapat menemukan tukang martabak yang mencoba menarik perhatian pengunjungnya dengan menyetel musik dangdut dengan volume tinggi dan melakukan aksi goyang ketika memasak martabaknya. Hal ini tentu sangat menarik perhatian pengunjung, terutama bagi mereka yang bukan warga asli Cirebon. Melihatnya membuat pengunjung juga ingin bergoyang-goyang senang.



Selain tukang martabak goyang, masih ada hal menarik yang bisa ditemukan dalam pasar senggol tersebut. Pasar malam, wahana malam anak, entah apa yang cocok menjadi judulnya. Ini merupakan replika dari Dunia Fantasi yang ada di Jakarta, namun wahana yang tersedia memang rata-rata adalah wahana-wahana seperti merry go round, wahana-wahana putar yang memabukkan. Tempat itu dipenuhi oleh keriuhanwarga Cirebon yang datang bersama keluarga, pacar, atau bahkan teman-teman sejawat. Malam akan terasa hangat dan cepat sekali ketika berada di tempat itu. Keseruannya dapat mengalahkan rasa letih pada tubuh setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, namun memang kita tidak akan mendapatkan yang seru apabila tidak mendapatkan keletihan.
Empat pemuda itu pun akhirnya mengakhiri petualangan mereka malam itu, dan kembali pulang menuju kota asal mereka, Bandung. Pelajaran yang bisa kita petik dari petualangan ini adalah, semua memang sudah ada yang mengatur. Sebuah kegagalan tidak hanya akan berakhir menjadi sebuah kegagalan apabila kita berupaya untuk memperbaikinya. Sangat benar, kegagalan merupakan suatu kesuksesan yang tertunda. Dengan gagalnya rencana ke Cicalengka, mereka mendapatkan keseruan yang sangat besar dari kota Cirebon.
Percaya bahwa semua yang terjadi pasti memiliki kompensasinya sendiri. Jangan takut untuk mencoba,
Let's get lost !